Harapan di Hulu Sungai Tamiang
Belajar di Ruang Terbuka
Sejumlah murid SD Tampur Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur, berlajar di ruang terbuka yang beralaskan lantai.
Dua tahun lalu banjir bandang menyapu kawasan Aceh, dua desa ini terparah dan tak menyisakan apapun. Warga Desa Tampur Paloh dan Desa Tampur Boor sepakat pindah ke tempat lebih tinggi, mendirikan pemukiman baru di atas bukit untuk lebih menjauh dari sungai. Semua berubah, setelah areal pertanian dan ladang mereka dilumat banjir dan kini menyisakan lumpur yang telah membatu. Mencapai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari tak semudah seperti dahulu lagi. Listrik sebagai penerangan dan akses untuk mendapat informasi hanya ada di angan-angan.
Kesulitan ekonomi karena hilangnya pekerjaan telah memperburuk kehidupan mereka, ditambah bantuan dari pemerintah untuk membangun kembali dirasa tidak serius atau mungkin sudah berhenti hanya sampai disitu. Dana perbaikan rumah warga hingga kini masih mereka terima tak sampai separuhnya. Juga bangunan sekolah dasar beserta fasilitas sebagai penunjang proses belajar-mengajar tak kunjung selesai. Termasuk guru, yang harus menumpang di rumah warga. Belum lagi akses yang hanya dapat dicapai dengan perahu kecil selama 7 jam dari dan ke Kuala Simpang lalu menyambung ke Idi Rayeuk untuk urusan administrasi membuat para guru mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Di SD Tampur Boor, satu ruangan kelas dipakai untuk murid kelas 1 sampai kelas 6, menggunakan meja dan kursi sisa banjir yang terpaksa harus dipakai.
Sementara di SD Tampur Paloh murid kelas 1 sampai kelas 4 termasuk staf pengajar duduk beralaskan lantai. Lebih menyayat saat murid kelas 5 dan 6 harus belajar di ruang terbuka yang hanya menggunakan beberapa lembar seng sebagai atap.
Ditambah, hingga kini SD Tampur Boor hanya memiliki 1 kepala sekolah dan 2 guru bakti. Sementara di SD Tampur Paloh hanya ada 1 kepala sekolah, 1 guru tetap dan 3 guru bakti. Tiada guru agama tetap, yang provinsi ini dikenal dengan serambi mekah dan hukum syariah islam. Untuk mendapatkan pendidikan agama lebih mereka pergi ke surau setiap sore hari. Mereka belajar mengaji dari para remaja desa.
Ini sangatlah jauh dari sebutan ideal buat sekolah yang standar kurikulum telah disamakan secara nasional. Sekolah Dasar sebuah awalan dari jenjang pendidikan formal yang akan menentukan masa depan anak sebagai pewaris Aceh dimasa depan.
Kepala Sekolah SD Tampur Paloh, Syahlan Spd berharap meubeler (perlengkapan sekolah seperti meja, kursi dan lainnya) dapat segera tersedia. Juga Syahlan berharap penambahan guru dengan segera. Dia juga menambahkan status jelas untuk kebijakan khusus dari pemerintah atas guru bakti, seperti Halifah yang telah mengabdi menjadi guru bakti selama 5 tahun.
Sementara Sujono, Kepala Sekolah SD Tampur Boor berharap dengan hal yang sama, juga pengadaan buku yang masih sangat minim serta mempercepat status SD ini menjadi negeri yang sebelumnya SD ini pecahan dari SD Negeri HTI. Jemain (31 tahun), seorang warga dan orang tua murid Desa Tampur Boor berharap kelas, buku dan guru yang cukup demi kemajuan pendidikan di Desa ini.
Hasan (59 tahun), seorang dukun kampung telah menggantikan dokter selama 20 tahun disini. Tak ada pilihan membuat Sabuniah (28 tahun) terpaksa membawa anaknya Syamsul Bahri berusia 9 bulan yang menderita muntah dan mencret ke dukun Hasan.
Disini ada mimpi Kasmawati, siswa kelas 4 yang bercita-cita menjadi guru atau dokter, profesi langka dan yang tidak pernah dia temui di desa ini. Dengan lampu sentir yang selalu menemaninya belajar setiap malam semoga mimpi itu menjadi kenyataan.
Jerit dan tangis masyarakat di hulu sungai tidak sampai ke Idi Rayeuk, Aceh Timur, apalagi ke Banda Aceh sebagai pusat pengambil kebijakan. Jerit di hulu hilang oleh gemericik air dan tangis mereka telah bersatu bersama air Sungai Tamiang.
terima kasih, ini sangat berguna bagi saya
BalasHapus